Rabu, 13 April 2011

Orientasi-Orientasi Karakter dan Gangguan Kepribadian


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap manusia memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter-karakter tersebut merupkan hal yang menjadi ciri khas dari setiap individu. Karakter kadang dipersepsikan oleh orang lain sama dengan kepribadian ataupun watak, namun sesungguhnya antara karakter, kepribadian, dan watak adalah hal yang berbeda walau ketiga hal tersebut hampir sama.

Kepribadian (personality) adalah suatu pola watak yang relatif permanen, dan sebuah karakter yang unik yang memberikan konsistensi sekaligus individualitas bagi perilaku seseorang. Watak (traits) memberikan kontribusi bagi perbedaan-perbedaan individu dalam perilakunya, konsistensi perilakunya di sepanjang waktu, dan stabilitas perilaku tersebut di setiap situasi. Watak mungkin saja unik, atau umum bagi beberapa kelompok orang, atau mungkin dimiiki seluruh spesies manusia, namun pola-nya selalu berbeda bagi setiap individu. Karena itu masing-masing pribadi, meskipun mirip dengan yang lain dalam satu-dua hal, tetap memilik sebuah kepribadian yang unik. Karakter (charakteristic) adalah kualitas unik seseorang yang mencakup atribut-atribut, seperti tempramen, fisik dan intelegensia.

Dari penjelasan tersebut sudah sangat jelas tentang perbedaan antara kepribadian, watak, dan karakter. Pada makalah ini akan dibahas secara mendalam mengenai karakter dan lebih tepatnya mengenai orientasi-orientasi karakter.

Orientasi-orientasi karakter memiliki dua pembagian secara umum yaitu orientasi-orientasi karakter yang nonproduktif dan orientasi-orientasi karakter yang produktif.

Orientasi-orientasi karakter yang nonproduktif menyebabkan seseorang dapat mencapai hal-hal tertentu tetapi setelah melewati tahapan dari keempat orientasi nonproduktif yaitu, (1). Menerima hal-hal secara passif, (2) Mengeksploitasi atau merampas hal-hal dengan paksa, (3). Menimbun objek-objek, dan (4). Memasarkan atau menukarkan hal-hal. Namun walaupun keempat tahapan ini telah dilewati, masih memungkinkan terjadinya kegagalan bagi manusia untuk dapat mendekati kebebasan positif tau realisasi diri. Oleh karena itu orientasi ini disebut sebagai orientasi “nonproduktif”.

Keempat tahapan tersebut menjadikan sesorang memiliki beberapa karakter khusus dari tahap orientasi nonproduktif tersebut yaitu, Reseptif (receptive), Eksploitatif (explotative), Penimbun (Hoarding), dan Marketing (marketing).

Semua karakter yang ditimbulkan dari orientasi nonproduktif ini memiliki ciri khas negatif dan positif tersendiri yang membedakannya dengan ciri karakter yang lainnya.

Berbeda dengan orientasi nonproduktif, orientasi produktif memiliki tiga dimensi yakni, kerja, cinta, dan penalaran. Hanya melalui aktivitas yang produktif barulah manusia dapat menjawab dilemma dasar manusia;yaitu menyatu dengan dunia dan orang lain. Sembari mempertahankan keunikan dan individualitasnya. Solusi ini dapat dicapai hanya melalui kerja, cinta, dan pemikiran yang produktif.

Orientasi produktif memberikan pemahan bahwa perjuangan bertahan hidup sebagai individu yang sehat bergatung pada kemampuan mereka menerima hal-hal dari orang lain secara terbuka, mengambil hal-hal dengan tepat, menjaga hal-hal dengan baik, menukar hal-hal dengan benar, dan bekerja, mencintai dan berpikir secara produktif.

Gangguan kepribadian juga sangat berpengaruh terhadap pemahaman kita tentang manusia yang merupakan objek penting bagi kajian psikologi. Sangat banyak fenomena gangguan kepribadian yang terjadi disekitar kita yang mungkin hingga saat ini belum dapat dipahami secara baik. Kaplan dan Saddock mendefinisikan kepribadian sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya; kepribadian relatif stabil dan dapat diramalkan. Sedangkan gangguan kepribadian adalah suatu varian dari sifat karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau penderitaan subjektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian (1997 : 242). Gangguan kepribadian digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu, (1) Kelompok A (odd/eccentric cluster), terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, schizoid, dan schizotypal. Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku yang aneh dan eksentrik., (2) Kelompok B (dramatic/erratic cluster), terdiri dari gangguan kepribadian antisosial, borderline, histrionic, dan narcissistic. Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku yang dramatik atau berlebih-lebihan, emosional dan eratik (tidak menentu atau aneh).(3)Kelompok C (anxious/fearful cluster), terdiri dari gangguan kepribadian avoidant, dependent, dan obsessive-compulsive. Individu dalam kelompok ini menampilkan perilaku cemas dan ketakutan.

Pada makalah kami akan dibahas mengenai tiga jenis gangguan kepribadian yang merupakan kasus terberat dari gangguan kepribadian lainnya yaitu, Nekrofilia (Necrophilia), Narsisme Sadistik (Malignant Narcissism), dan Simbiosis Insestik ( Incentuous Symbiosis).

Psikoterapi adalah suatu metode penyembuhan yang berusaha untuk menelaah secara detail penyebab utama munculnya suatu penyakit yang sangat terkait dengan bagaimanakah kondisi psikis seseorang penderita penyakit tersebut. Psikoterapi merupakan sebuah teknik yang intensif dan berdurasi panjang (baca: lama), dimana tujuannya hendak mengungkap motif-motif dan konflik alam bawah sadar pada individu yang neurotik dan mengalami kecemasan (individu yang memiliki gangguan, bukan pada individu “normal”). Freud melihat bahwa suatu gangguan disebabkan oleh konflik antara id dan superego, serta kurangnya integrasi ego dalam diri individu. Akibatnya, individu pun melakukan represi, yang turut pula memicu suatu mekanisme pertahanan diri.

Psikoterpi dilakukan dengan melakukan terapis yaitu menghubungkan diri dengan pasien terapis agar pasien terapi dapat merasakan satu dengan seseorang. Meskipun Transference bahkan Countertransference bisa hadir dalam hubungan ini, yang terpenting adalah dua manusia yang nyata saling terlibat satu sama lain.Transference adalah saat si pasien mengembangkan reaksi emosional ke terapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang di masa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan sayang dan kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan atau kecemburuan.

Countertransference adalah saat ketika terapis menjadi suka atau tidak suka kepada pasien karena pasien tersebut mirip dengan seseorang di kehidupannya. Hal ini penting untuk disadari terapis karena dapat mempengaruhi efektivitas terapi.

Metode-metode investigasi Fromm dilakukan dengan melakukan beberapa peneliatian kepribadian dari banyak sumber, termasuk psikoterapi, antropologi budaya, dan psikosejarah. Namun demikian pada makalah ini akan dibahas secara singkt mengenai studi antropologis tentang kehidupan di sebuah pedesaan Meksiko dan analisis psikobiografis tentang Adolf Hitler.

Dari penelitian yang dilakukan di Meksiko tentang karakter sosial yang ada di sana, maka ditemukan beberapa karakter yang sesuai dengan karakter yang elah dikemukakan Fromm sebelumnya yaitu, reseptif-nonproduktif, penimbunan-nonprodutif dan eksploitatif-nonproduktif.

Fromm juga menguji tentang dokumen-dokumen sejarah dalam rangka menggambarkan potret psikologis seorang pribadi yang terkenal, sebuah teknik yang disebut psikohistoros atau psikobiografi, yang dimana Fromm berusaha melakukan psikohistoris terhadap Adolf Hitler.

Tulisan-tulisan dari Fromm mengenai karakter, ternyata tidak memiliki pengaruh besar terhadap penelitian empiris selanjutnya, karena terbukti hanya sedikit penelitian empiris yang dapat dihasilkan dari tulisan Froom. Oleh karena itu dilakukan riset-riset yang juga terkait dengan tulisan Froom mengenai karakter.

Dalam makalah ini sangat banyak hal penting yang berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari, utamanya mengenai karakter dan gangguan kepribadian. Oleh karana itu pembahasan dalam makalah ini sangat penting untuk dikaji lebih lanjut agar dapat diperoleh pengetahuan yang lebih luas mengenai karakter dan gangguan kepribadian itu sendiri.

BAB II

POKOK PEMBAHASAN

A. Orientasi-orientasi karakter

Teori Fromm, kepribadian seseorang tercermin dari orientasi karakternya, yaitu cara yang relatif permanen dari seseorang dalam berhubungan dengan manusia atau hal-hal lainnya. Kualitas kepribadian terpenting yang dicapai adalah karakter didefinisikan sebagai “system yang relative permanen bagi semua perjuangan non-instingtual, yang dilalui manusia yang menghubungkan dirinya dengan manusia lain dan dunia alamiah” (Fromm, 1973 dalam Feist, 2008).

Fromm (1992), yakin bahwa karakter adalah pengganti bagi minimnya isting pada manusia. Bukannya bertindak berdasarkan insting, manusia lebih bertindak menurut karakternya. Jika setiap mereka harus berhenti dulu dan berpikir tentang konsekuensi-konsekuensi dari perilaku mereka, maka tindakan mereka akan menjadi tidak efisien dan tidak kosisten lagi. Dengan bertindak menurut sifat karakter mereka manusia dapat bersikap secara efisien, spontan, dan konsisten.

Manusia berhubungngan dengan dunia melalui dua cara yaitu dengan mencapai dan menggunakan hal-hal (asimilasi), dan dengan menghubungkan diri sendiri dan diri-diri yang lain (sosialisasi).

1. Orientasi-Orientasi yang Nonproduktif .

Manusia dapat mencapai hal-hal lewat satu dari empat orientasi nonproduktif berikut ini yaitu, (1). Menerima hal-hal secara passif, (2) Mengeksploitasi atau merampas hal-hal dengan paksa, (3). Menimbun objek-objek, dan (4). Memasarkan atau menukarkan hal-hal.

Fromm menggunakan istilah “nonproduktif” untuk menunjukkan bahwa strategi-strategi seperti ini akan gagal jika digunakan manusia untuk mendekati kebebasan positif atau realisasi diri. Walaupun demikian, orientasi-orientasi nonproduktif ini tidak seluruhnya negatif karena masing-masing memiliki aspek negatif dan positif. Kepribadian selalu merupakan campuran atau kombinasi beberapa orientasi, meskipun salah satu orientasi lebih dominan.

Ada beberapa karakter yang dimiliki oleh manusia.

1. Reseptif (receptive),

Karakter reseptif merasa bahwa sumber bagi semua kebaikan terletak di luar diri mereka bahwa satu-satunya cara mereka berhubungan dengan dunia adalah menerima semua hal termasuk cinta, pengetahuan dan kepemilikan material. Mereka lebih memusatkan perhatian kepada menerima dari pada memberi. Kualitas negatif pribadi reseptif mencakup kepasifan, kepatuhan, dan kurang percaya diri. Sifat positif mereka sebaliknya adalah kesetiaan, penerimaan, dan rasa percaya kepada orang lain.

2. Eksploitatif (explotative)

Karakter eksploitatif percaya bahwa sumber-sumber semua kebaikan berada di luar dirinya. Namun, tidak seperti pribadi reseptif, mereka secara agresif mengambil apa yang mereka inginkan dari pada menunggu dari pada menerimanya dengan pasif. Dalam hubungan sosial, mereka tampak menggunakan paksaan atau kekuatan untuk mengambil pasangan, ide-ide atau property seseorang. Manusia yang ekploitatif bisa saja “jatuh cinta” dengan seorang perempuan yang sudah menikah, bukan karena dia benar-benar menyukai perempuan itu, melainkan karena dia ingin mengeksploitasi istrinya. Wilayah ide, manusia yang eksploitatif lebih suku mencuri atau mem-plagiat dari pada menemukan ide-ide baru. Tidak seperti karakter reseptif, mereka bersedia mengungkapkan pendapatnya sendiri namun, biasanya itu adalah opini yang sudah dicuri dari orang lain. Mengenal sisi negatifnya, karakter eksploitatif cenderung egosentrik, penuh tipu daya, arogan, dan penuh bujuk rayu. Sedangkan sisi positifnya, mereka bersifat impulsif, bangga, dan penuh percaya diri.


3. Penimbun (Hoarding)

Karakter penimbun lebih berusaha menyelamatkan apa yang diperolehnya. Mereka memegang segala sesuatu tetap dalam dirinya dan tidak membiarkan satu hal pun lepas.Mereka menyimpan uang uang, perasaan, dan pikiran untuk mereka sendiri. DAlam hubungan cinta mereka berusaha memiliki cinta seseorang dan menjaga hubungan itu daripada membiarkannya berusaha dan tumbuh. Mereka mirip dengan karakter anal Freud dalam hal keteraturan yang berlebih-lebihan, keras kepala dan pelit. Namun begitu, Fromm(1964) percaya bahwa karakter penimbun watak anal ini bukan hasil dari dorongan-dorongan seksual melainkan bagian dari ketertarikan umum mereka kepada segala sesuatu yang tidak hidup, termasuk feses.

Sifat negatif dari kepribadian diantara mencakup rigiditas, sterilitas, kekeraskepalaan, kompulsif, dan tidak kreatif; sebaliknya, karakter positifnya mencakup suka kerapihan, suka kebersihan, dan hemat.

4. Marketing (marketing)

Karakter marketing tumbuh dari perdagangan modern di mana perdangangan bukan lagi milik personal melainkan dilakukan koperasi-koperasi raksasa tak berwajah. Konsisten dengan tuntutan-tuntutan perdagangan modern karakter marketing melihat diri mereka sebagai diri mereka sebagai komoditas di mana nilai pribadi mereka bergantung kepada nilai tukar mereka, yaitu kemampuan untuk menjual diri mereka sendiri.

Kepribadian marketing atau pertukaran harus melihat diri mereka selalu berada dalam permintaan yang konstan; mereka harus membuat orang lain percaya bahwa mereka harus memiliki kecakapan khusus dan pandai menjual. Rasa aman pribadi terletak diatas landasan yang labil karena mereka harus menyesuaikan kepribadian mereka dengan apa yang sedang diminati. Mereka memainkan banyak peran dan dituntun oleh motto. “Aku adalah apa yang kamu inginkan. “(Fromm, 1947, dalam Feist).

Manusia marketing tidak memiliki masa lalu atau masa depan, dan tidak memiliki prinsip atau nilai permanen. Mereka memiliki sedikit saja sifat positif dibandingkan orientasi yang lain. Karena pada dasarnya mereka adalah bejana kosong yang harus diisi dengan apapun karateristik yang paling laris dijual.

Ciri negatif karakter marketing tidak memiliki tujuan, oportunis, dan tidak konsisten dan menyia-nyiakan diri sendiri. Namun cirri positifnya mencakup kesediaan mau berubah, berpikiran terbuka, adaptif dan murah hati.


2. Orientasi Produktif

Orientasi yang produktif memiliki tiga dimensi yakni, kerja, cinta, dan penalaran. Karena manusia produktif bekerja menuju kebebasan positif yang realisasi terus menerus potensi mereka, maka mereka adalah orang-orang yang paling sehat dari semua tipe karakter. Hanya melalui aktivitas yang produktif barulah manusia dapat menjawab dilemma dasar manusia;yaitu menyatu dengan dunia dan orang lain. Sembari mempertahankan keunikan dan individualitasnya. Solusi ini dapat dicapai hanya melalui kerja, cinta, dan pemikiran yang produktif.

Manusia yang sehat menilai kerja bukan sebagai akhir, melainkan sebagai cara pengekspresian diri secara kreatif. Mereka tidak bekerja untuk mengeksploitasi orang lain atau mengakumulasi kepemilikian material yang tidak dibutuhkan. Mereka tidak malas atau aktif, namun kompulsif, melainkan menggunakan kerja sebagai cara memproduksi hal-hal yang dibutuhkan untuk hidup.

Cinta yang produktif dicirikan oleh empat kualitas cinta seperti perhatian, tanggung jawab, penghargaan, dan pengenalan. Sebagai tambahan empat karateristik ini, manusia yang sehat memiliki biofilia; yaitu cinta yang menggebu-gebu terhadap kehidupan dan semua yang hidup. Pribadi biofilia berhasrat mengembangkan semua kehidupan sampai sejauh mungkin – hidup manusia, hewan, tumbuhan, ide,dan budaya. Mereka focus pada pertumbuhan dan perkembangan diri mereka seperti terhadap orang lain. Individu-individu ingin mempengaruhi manusia lewat cinta, rasio, dan keteladanan – bukan dengan kekuatan pemaksaan. Fromm yakin bahwa cinta kepada orang lain dan cinta kepada diri sendiri tidak dapat dipisahkan namun bahwa cinta pada diri harus datang lebih dulu. Semua orang memiliki kemampuan untuk melakukan cinta yang produktif namun, sebagian besar tidak dapat mencapainya lkarena pertam-pertama mereka tidak dapat mencintai diri mereka sendiri apa adanya.

Pemikiran yang produktif, merupakan pemikiran yang tidak dapat dipisahkan dari kerja dan cinta yang produktif, dimotivasi oleh minat besar terhadap orang atau objek lain. Manusia yang sehat melihat orang lain sebagaimana adanya dan bukan seperti yang mereka inginkan terhadap orang-orang itu.Dengan cara yang sama mereka mengenal diri mereka sendiri apa adanya dan tidak perlu menipu diri sendiri.

Fromm (1947)yakin bahwa manusia yang sehat bersandar kepada sejumlah kombinasi dari kelima orientasi karakter ini. Perjuangan bertahan hidup sebagai individu yang sehat bergantung pada kemampuan mereka menerima hal-hal dari orang lain secara terbuka, mengambil hal-hal dengan tepat, menjaga hal-hal dengan baik, menukar hal-hal dengan benar, dan bekerja, mencintai, dan berpikir secara produktif.

B. Gangguan-gangguan Kepribadian

Menurut Erich Fromm, tokoh psikoanalisis humanistik (1900-1980), menyatakan bahwa orang yang mengalami gangguan psikologis tidak mampu mencintai dan telah gagal menegakkan persatuan dengan orang lain.

Perkembangan jiwa yang sehat dicapai dengan memenuhi kebutuhan eksistensial secara positif, yaitu mengembangkan cinta, kreativitas, keutuhan, individualitas, dan tujuan hidup yang rasional. Dalam masyarakat kita, berapa banyak kita menemukan hal sebaliknya?

Kita banyak menjumpai orang yang gagal mengembangkan cinta sehat kepada orang lain, dengan menjadi orang yang tunduk membudak atau sebaliknya, mendominasi orang lain. Kita juga sering menemukan individu yang gagal mengembangkan transendensi, sebaliknya cenderung merusak kehidupan. Betapa banyak individu yang narsis, gagal mencapai keberakaran dalam komunitasnya, terutama di kota-kota besar.

Kita juga mudah menemukan orang yang tidak berhasil mengembangkan individualitasnya, melainkan hidup sekadar melakukan konformitas: mengikuti apa yang menjadi tren kelompok/masyarakat. Sebagian orang mengembangkan tujuan irasional: mau jadi tokoh bangsa, tetapi berorientasi pada kebesaran diri pribadi; mau jadi martir, tetapi membunuh banyak orang; mau jadi presiden tanpa peduli track-record; dsb.

Berikut ini jenis-jenis gangguan kepribadian yang lebih khusus menurut Fromm, yaitu necrophilia (nekrofilia), malignant narcissism, incestuous symbiosis (IS). Kita perlu menyadari bentuk gangguan kepribadian ini, terutama yang berpengaruh besar di masyarakat. Kita juga perlu menyadari kemungkinan kita memiliki andil membentuk kepribadian tidak sehat ini dalam lingkungan kita.

1.Nekrofilia
Istilah ini berarti kecintaan pada kematian. Biasanya menunjuk pada perbuatan seksual yang tidak lumrah, di mana seseorang membutuhkan kontak seksual dengan mayat. Namun, Fromm mengunakan istilah nekrofilia untuk hal yang lebih luas, menyangkut ketertarikan pada kematian. Ini merupakan kebalikan dari
biofilia. Secara alami orang mencintai kehidupan, tetapi bila kondisi sosial menghalangi perkembangan biofilia, orang mungkin mengadopsi nekrofilia.

Kepribadian nekrofili membenci kemanusiaan. Mereka rasis, diskriminatif, penghasut perang, senang menggertak orang yang lemah. Mereka menyukai darah, kerusakan, teror, dan penyiksaan. Mereka suka merusak kehidupan, menganjurkan hukum dan aturan secara keras, menyenangi malam daripada siang, dan senang beroperasi dalam kegelapan.

Pribadi nekrofilia tidak memilih untuk bersikap destruktif, karena lebih tepatnya, perilaku destruktif mereka justru cerminan dari karakter dasar mereka itu sendiri. Semua orang dapat bersikap agresif dan sedtruktif pada waktu-waktu tertentu namun, di sepanjang hidupnya, pribadi nekrofili memberontak di sekitar kematian, destruksi, penyakit, dan kemerosotan.

Orang nekrofili berperilaku destruktif sebagai refleksi dari karakter dasar mereka. Tidak sama dengan orang yang hanya sesekali berbuat agresif.

Dalam konteks situasi sekarang, kepribadian nekrofilia dapat ditemukan pada orang yang senang menciptakan kerusuhan massal (ingat konflik Ambon, Poso, dsb), pembantaian atau pembunuhan massal (ingat peristiwa G30S PKI, Mei 1998, peristiwa orang hilang, dsb), teroris, dan juga pembunuh berantai. Pelakunya melakukan dengan model gerakan bawah tanah. Dalam kehidupan sehari-hari mereka tampil sebagai pribadi yang baik dan bermoral.

2. Malignant narcissism (Narsisme Nadistik)

Orang berkepribadian sehat kadang menunjukkan bentuk narsisme lunak, yakni ketertarikan terhadap tubuhnya sendiri. Dalam bentuk yang berbahaya, narsisme menghalangi persepsi yang objektif terhadap realitas, sehingga segala sesuatu yang dimiliki menjadi sangat berharga, sebaliknya yang dimiliki orang lain kurang berharga.

Individu yang narsis asyik dengan dirinya sendiri, bukan hanya terbatas mengagumi dirinya di depan kaca. Keasyikan dengan tubuh sendiri sering mengakibatkan hipokondriasis (merasa sakit meski secara medis tidak ada gangguan fisik), atau memberi perhatian yang obsesif terhadap kesehatan sendiri.

Fromm juga menyebutkan adanya hipokondriasis moral atau suatu keasyikan terhadap kesalahan akibat pelanggaran pada masa lalu. Orang yang terfiksasi, pada dirinya sangat mungkin menginternalisasi pengalaman (mengidentifikasi siapa dirinya berdasar yang dialami) dan memikirkan kesehatan fisik dan kebajikan moral secara obsesif.

Orang narsis mencapai rasa aman dengan mengembangkan keyakinan menyimpang, bahwa kualitas pribadi luar biasa melebihi orang lain. Karena apa yang dimilikinya dirasa sedemikian luar biasa, mereka yakin bahwa dirinya tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjamin nilai-nilai pribadinya.

Rasa harga diri tergantung pada imajinasi dirinya yang narsistik, tidak berdasarkan prestasi. Bila usahanya dikritisi oleh orang lain; mereka marah, dan mungkin mengamuk. Bila kritik itu bertubi-tubi, mungkin mereka tidak mampu melawan, lalu berbalik marah pada dirinya sendiri. Hasilnya depresi, merasa dirinya tidak berharga.

Pribadi narsistik memiliki apa yang disebut horney “klaim-klaimneurotik”. Mereka mencapai rasa aman dengan memegang erat-erat keyakinan yang terdistorsi bahwa kualitas personal mereka yang luar biasa sudah member mereka superioritas di atas siapa pun. Karena apa yang mereka miliki termasuk penampilan, kesehatan fisik, kekayaan, begitu menakjubkan sehingga mereka percaya tidak perlu melakukan apapun untuk membuktikan nilai mereka. Rasa keberhargaan mereka bergantung pada ghambar diri mereka yang narsistik dan bukannya kepada pencapaian-pencapaian mereka yang sebenarnya. Ketika upaya-upaya mereka dikritik orang lain mereka akan bereaksi dengan penuh kemarahan dan kekerasan, seringkali balik membalasa pengkritiknya dan berusaha menghancurkan mereka. Jika kritik terlalu menohok sehingga mereka tidak sanggup menerimanya maka mereka menyimpan kemarahan itu di dalam dirinya. Hasilnya adalah depresi perasaan tak berharga. Meskipun depresi rasa bersalah yang besar dan hipokonriasis bias tampak sebagai apapun kecuali pengagungan diri, Fromm percaya bahwa masing-masing hal ini dapat mengarah kepada sindrom narsisme yang lebih dalam

Individu narsistik juga mudah ditemukan di tengah masyarakat kita. Mereka adalah orang-orang yang berhenti berkembang (mengalami fiksasi) karena asyik memperhatikan diri sendiri dan merasa dirinya luar biasa. Mereka tidak tahan dikritik, sebaliknya senang menunjuk kekurangan orang lain, tampaknya untuk meyakinkan bahwa dirinya tetap yang terbaik.

Mereka tergantung pada orang-orang tertentu, yang diharapkan dapat mendukung konsep dirinya dengan selalu mengamini apa saja yang dikatakan dan dilakukan. Mereka sangat marah bila orang-orang terdekat ini ternyata mengkritisi dirinya.

Mereka memosisikan diri sebagai orang yang berintegritas, tetapi kenyataannya tidak mampu melakukan suatu usaha jangka panjang karena tidak tahan bekerja sama dengan orang lain yang berbeda pendapat dengan dirinya, atau menurut anggapan tidak memiliki moral setingkat dirinya.

Bila menjadi pemimpin, tentu saja tidak mampu menjadi pemimpin yang produktif (bekerja, mencintai, dan berpikir sehat).


3. Incistuous symbiosis/Simbiosis Insestik

Ini merupakan orientasi patologis dengan ciri utama ketergantungan yang sangat tinggi pada ibu atau pengganti ibu. Incestuous symbiosis (IS) merupakan bentuk luar biasa dari fiksasi terhadap ibu (orang yang tetap bergantung pada ibu). Fiksasi pada ibu dalam bentuk yang lebih umum, sebagai contoh adalah pria yang membutuhkan wanita untuk merawat-menyukai dan memuja dirinya; mengalami kecemasan serta depresi bila kebutuhannya tidak terpenuhi.

Pada penderita IS, kepribadiannya bercampur pribadi lain, dan kehilangan identitas dirinya secara individual. Hal ini bermula di masa bayi sebagai kelekatan alami terhadap ibu yang mengasuh. Kelekatan ini berkembang sedemikian rupa.

Mereka merasakan kecemasan dan ketakutan yang ekstrem bila hubungan itu terancam. Mereka yakin tidak sanggup hidup tanpa pengganti ibu. Dalam hal ini yang berperan sebagai pengganti ibu tidak perlu seseorang, melainkan berupa keluarga, perusahaan, agama, negara. Orang IS mendistorsi alasan kekuasaan atau kapasitasnya untuk mencintai secara otentik, menghalanginya mencapai kemandirian dan integritas.

Dalam sejarah, Hitler sebagai penguasa Jerman menggunakan kekuasaannya untuk pembunuhan besar-besaran terhadap orang Yahudi. Ini merupakan wujud kelekatan pada ras Jerman sebagai pengganti ibu. Ia melakukan kekejaman itu atas nama kecintaannya pada ras Jerman.

Dalam masyarakat kita, IS ditemukan pada orang yang memiliki fanatisme membabibuta, yang paling menonjol adalah terhadap agama. Atas nama kecintaan pada agama, mereka menginginkan kekuasaan dan menyerang kelompok lain yang berbeda pandangan.

Beberpa individu patologis memiliki ketiga gangguan kepribadian ini yaitu mereka tertarik kepada hal-hal yang mati atau nekrofilia, memperoleh kesenangan dari menghancurkan orang-orang yang dianggap sebagai inferior (narsisme sadistic), dan memilki hubungan simbiotik, neoritik dengan ibu atau figure pengganti ibu mereka (simbiosis insestik). Pribadi yang seperti ini membentuk apa yang disebut Fromm Sindrom kemerosotan (Syndrom of decay). Dia mengontraskan pribadi patologis ini dengan mereka yang ditandai dengan sindrom pertumbuhan atau syndrome of growth yang disusun oileh kualitas-kualitas yang berlawanan yaitu biofilia, cinta, dan kebebasan positif.

C. Psikoterapi

Psikoterapi adalah suatu metode penyembuhan yang berusaha untuk menelaah secara detail penyebab utama munculnya suatu penyakit yang sangat terkait dengan bagaimanakah kondisi psikis seseorang penderita penyakit tersebut. Psikoterapi merupakan sebuah teknik yang intensif dan berdurasi panjang (baca: lama), dimana tujuannya hendak mengungkap motif-motif dan konflik alam bawah sadar pada individu yang neurotik dan mengalami kecemasan (individu yang memiliki gangguan, bukan pada individu “normal”). Freud melihat bahwa suatu gangguan disebabkan oleh konflik antara id dan superego, serta kurangnya integrasi ego dalam diri individu. Akibatnya, individu pun melakukan represi, yang turut pula memicu suatu mekanisme pertahanan diri.

Psikoterpi dilakukan dengan melakukan terapis yaitu menghubungkan diri dengan pasien terapis agar pasien terapi dapat merasakan satu dengan seseorang. Meskipun Transference bahkan Countertransference bisa hadir dalam hubungan ini, yang terpenting adalah dua manusia yang nyata saling terlibat satu sama lain.Transference adalah saat si pasien mengembangkan reaksi emosional ke terapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang di masa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan sayang dan kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan atau kecemburuan.

Countertransference adalah saat ketika terapis menjadi suka atau tidak suka kepada pasien karena pasien tersebut mirip dengan seseorang di kehidupannya. Hal ini penting untuk disadari terapis karena dapat mempengaruhi efektivitas terapi. Fromm mengembangkan sistem terapi sendiri yang dinamakannya: Psikoanalisis Humanistik. Dibanding Psikoanalisa Freud. Fromm lebih memperdulikan dengan aspek interpersonal dari hubungan teraputik. Menurutnya tujuan klien dalam terapi adalah untuk memahami diri sendiri. Tanpa pengetahuan tentang diri sendiri, orang tidak akan tahu orang lain. Fromm yakin bahwa klien mengikuti terapi untuk mencari kepuasan dari kebutuhan dasar kemanusiaannya, yakni keterhubungan, keberasalan, transendensi, perasaan identitas, dan kerangka orientasi. Karena itu terapi harus dibangun melalui hubungan pribadi antara terapis dengan kliennya.

Froom (1963) yakin bahwa terapis mestinya tidak terlalu bersikap ilmiah dalam memahami pasiennya. Hanya dengan sikap keterhubungan barulah orang lain dapat sungguh-sungguh dipahami. Terpis mestinya tidak melihat pasien sebagai sebuah penyakit atau sesuatu selain sebagai sebuah pribadi dengan kebutuhan manusiawi yang sama seperti yang dimiliki semua orang lain termasuk dirinya.

D. Metode-Metode Investigasi Froom

Metode-metode investigasi Fromm dilakukan dengan melakukan beberapa peneliatian kepribadian dari banyak sumber, termasuk psikoterapi, antropologi budaya, dan psikosejarah. Namun demikian pada makalah ini akan dibahas secara singkt mengenai studi antropologis tentang kehidupan di sebuah pedesaan Meksiko dan analisis psikobiografis tentang Adolf Hitler.

  1. Karakter Sosial di Pedesaan Meksiko

Froom berusaha untuk dapat memahami orientasi karaktermasyarakat pedesaan yang ada di Meksiko. Froom mencoba untuk menemukan karakter yang menjadi ciri khas dari masyarakat pedesaan yang ada di sana. Fromm melakukan penelitian ini dengan tinggal bersama para penduduk desa dan berusaha memperoleh rasa penerimaan mereka. Setelah memperoleh rasa penerimaan dan tinggal di antara penduduk desa, Fromm mulai melakukan penelitiannya dengan meggunakan seperangkat teknik yang dirancang untuk mengetahui karakter penduduk yang ada di sana. Yang termasuk diantara peranti riset adalah wawancara intensif, laporan mimpi, kuisioner mendetail dan dua teknik proyektif. Dari penelitiannya, Froom menemukan ada tiga tipe karakter yang sesuai demngan pembahasan Fromm yaitu, reseptif-nonproduktif, penimbunan-nonprodutif dan eksploitatif-nonproduktif.

  1. Studi psikohistoris tentang Hitler

Fromm juga menguji tentang dokumen-dokumen sejarah dalam rangka menggambarkan potret psikologis seorang pribadi yang terkenal, sebuah teknik yang disebut psikohistoros atau psikobiografi, yang dimana Fromm berusaha melakukan psikohistoris terhadap Adolf Hitler. Fromm melihat Hitler sebagai contoh pribadi yang paling terkenal di seluruh dunia denag teori kemerosotannya, memiliki kombinasi nekrofilia, narsisme sadistik, dan simbiosis insestik. Dia tertarik pada kematian dan destruksi; berfokus sangat sempit pada kepentingan diri; dan dorongan oleh devosi insestik “ras” jerman, mendedikasikan secara fanatik dirinya untuk mencegah darahnya dicemari oleh darah Yahudi dan ras-ras “non-arya” lainya. Fromm mengamati bahwa tidak ada dalam kehidupan kanak-kanak Hitler awal yang dapat mendorong dirinya secara mutlak menuju sindrom kemerosotan. Dengan menekankan agar kita tidak melihat Hitler sebagai bukan manusia, Fromm menyimpulkan study psikosejarahnya dengan kata-kata “Analisi apapun yang akan mendistorsi gambar Hitler dengan melecehkan kemanusiaan hanya akan semakin memperluas kecenderungan kita untuk menjadi buta terhadap potensi-potensi kemunculan Hitler-Hitler lain kecuali mereka semua menganakan Tanduk” (hlm. 433).

E. Riset-riset Terkait

Tulisan-tulisan dari Fromm mengenai karakter, ternyata tidak memiliki pengaruh besar terhadap penelitian empiris selanjutnya, karena terbukti hanya sedikit penelitian empiris yang dapat dihasilkan dari tulisan Froom. Oleh karena itu dilakukan riset-riset yang juga terkait dengan tulisan Froom mengenai karakter.

Salah satu riset yang relatif baru adalah konsepnya tentang karakter marketing, yang dilukiskan Fromm sebagai pribadi yang melihat diri mereka sebagai komoditas untuk diperjualbelikan. Pribadi seperti ini percaya bahwa nilai pribadi mereka terletak diluar diri mereka, sehingga mereka harus mengiyakan terus menerus harapan-harapan orang lain.

Shaun Saunders dan Don Munron (2000) mengembangkan Saunders Consument Orientation Indexuntuk (SCOI)menilai karakter marketing Fromm. Hasil dari temuannya adalah SCOI memiliki validitas konvergen tetapi juga memenuhi validitas divergen dan pada akhirnya ditemukan validitas diskriminan

rinkasnya, dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa pribadi yang diberkan skor tinggi dalam karakter marketing Fromm cenderung lebih mudah marah, depresi, dan cemas daripada pribadi yang diberikan skor rendah dengan skala itu. Selain itu, karakter marketing cenderung mengasumsikan ketidaksetaraan diantara manusia dan menilai kompetisi lebih tinggi daripada kerjasama.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Orientasi-orientasi karakter akan menjadi ciri khas dari seorang individu.

2. Orientasi karakter terbagi atas dua yaitu orientasi nonprodukif dan orientasi produktif.

3. Orientasi nonproduktif terdiri atas Reseptif (receptive), Eksploitatif (explotative), Penimbun (Hoarding), dan Marketing (marketing).

4. Terdapat beberapa gangguan kepribadian yang sangat kritis, yaitu Nekrofilia (Necrophilia), Narsisme Sadistik (Malignant Narcissism), dan Simbiosis Insestik ( Incentuous Symbiosis).

5. psikoterapi merupakan jenis terapi yang memfokuskan pada keterikatan atu hubungan yang sangat dekat antara terapis dan pasien terapi.

6. hasil tulisan Fromm tidak menghasilakan penelitian Empiris yang banyak

B. Rekomendasi

Rekomendasi bagi pembahasan pada makalah ini yaitu:

  1. Sebaiknya psikohistoris yang dibahas tidak hanya terdiri atas seorang tokoh saja tapi bisa lebih dari itu
  2. Sebaiknya gangguan kepribadian yang dibahas lebih dispesifikkan masuk kedalam gangguan kepribadian tipe apa.
  3. Riset-riset terkait yang dijelaskan hanya memaparkan satu contoh, sebaiknya diberikan lebih dari dua contoh agar lebih jelas.

DAFTAR PUSTAKA

Davison, G. C., Neale, J. M., & Kring, A. N. 2004. Psikologi Abnormal. Terjemahan oleh Noermalasari Fajar. 2006. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Alwisol. 2004. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.

Feist, Jess, & Feist, J. G. 2008. Theories of Personality.

Ramadhani, A. V. 2008. Personality Disorder (Gangguan Kepribadian). (Online) (file:///G:/jurnal%20gangguan%20kepribadian.htm, diakses tanggal 12 Mei 2009).

Leary, T. (1957). Interpersonal diagnosa dari pribadinya. New York: Ronald Press.

Gurtman, MB (2009, 10 Mei). Interpersonal yang circumplex [WWW dokumen]. URL http://www.uwp.edu/academic/psychology/faculty/netcirc.htm

Sabtu, 09 April 2011

Dimanakah Aku?



Dimanakah Aku?

Di tempat ini

Aku menggoreskan pena, menuangkan tinta

Menyampaikan rasa, menatap dunia

Aku mengharapkan mampu

Mampu untuk menjadi sebuah buku

Dengan halamanku yang tebal dan tipis

Sebagai penepis dunia yang miris

Namun, aku terhanyut

Terhanyut dalam dunia yang kusut

Tanpa sanggup untuk menjadi penyejuk

Yang menyejukkan jiwa-jiwa yang terantuk

Kemudian, aku tersadar

Telah terbentuk sesuatu di hadapanku

Terbentuk sebuah pemandangan baru

Pemandangan yang menorehkan kisah padaku

Dengan danau dikala hujan mengguyur

Dengan kegersangan dikala musim kemarau bersambut

Dengan bunyi keras dari TOA dikala musim akrobat di jalan

Dengan hujan batu, busur panah, api dan balok yang saling bertegur sapa

Lalu…

Aku kembali memalingkan wajah

Berharap mendapat sebuah jawaban

Atas pertanyaan yang mulai terngiang di kepalaku

Dimanakah aku?

Apakah memang di sini tempatku?

Apakah aku yang bodoh menggunakannya?

Atau mungkin tempat ini memang hanya untuk mereka?

Aku mencoba bertanya pada rumput yang bergoyang

Namun aku hanya menemukan dedaunan kering

Aku mencoba bertanya kepada waktu

Namun waktu terlalu sibuk untuk menjawab pertanyaanku

Akhirnya…

Aku hanya sanggup menghelakan nafas

Menatap awan yang terus berarak

Dan mendengarkan nyanyian tanya yang tak henti menyapa

Created By:

Utari Dwi Sartika

Psikologi 2008

Jumat, 08 April 2011

just question..


Tadi kami sempat melakukan diskusi kecil-kecilan waktu kelas kognitif. Hal ini sehubungan dengan pembahasan psikologi kognitif. dalam psikologi kognitif ada materi yang negbahas masalah pengenalan objek. bagaimana seseorang mampu melakukan deteksi terhadap objek. Tentu saja pendeteksian tersebut dilakukan melalui proses sensasi, yaitu menangkap sesuatu melalui alat indra kita, kemudian setelah stimulus diterima oleh alat indra, barulah proses persepsi dapat difungsikan. seseorang akan mengolah informasi yang telah ditangkap melalui alat indra tadi. Nah, proses persepsi manusia itu yang berbeda-beda. ada yang mempersepsikan sesuatu secara bottom-up yaitu dengan memahami bagian-bagian kecil sesorang akan memahami satu hal secara keseluruhan, dan teori top-down, yaitu dengan memahami satu hal secara utuh barulah kemudian dapat mengetahui bagian-bagian kecilnya. kemudian juga ada pembahasan mengenai persepsi konstruktif yaitu melakukan proses persepsi karena adanya hubungan antara sensasi dan memori, sedangkan persepsi langsung, hanya terbentuk karena campur tangan lingkungan.
Sebenarnya agak meleset dari mata kuliah ini, tapi tiba-tiba pertanyaan ini terbesit begitu saja ketika saya mendengar penjelasan tentang proses persepsi tadi.
"KENAPA ADA BANYAK BAHASA DI DUNIA INI?"
kenapa setiap orang punya bahasa yang berbeda di setiap negara, tau setiap daerah.
kenapa "1" dalam bahasa indonesia = satu
dalam bahasa jawa = siji
dalam bahasa inggris = one
dalam bahasa makassar = se're
dalam bahasa jerman = ein
dalam bahasa belanda = een
dalam bahasa perancis = une

kenapa orang purba dulu bahasanya hanya"uba..uba...", kenapa ada yang benda yang berbentuk persegi panjang atau segi empat trus punya empat kaki harus di sebut sebagai meja, kenapa benda bulat yang di tendang di kaki di sebut bola, kenapa?
saya jadi penasaran sama penemu bahasa. apa pernah kita bertanya kenapa yang melahirkan kita di sebut sebagai ibu trus yng punya kumis kita panggil ayah?
kenapa ya??? serius, penasaran dengan orang yang prtama kali membuat bahasa.
padahalkan kalau ingi berdasarkan pada jaman Nabi, kenapa semua orang tidak bicara dalam bahasa arab saja.
saya jadi bingung, kenapa tidak ada satu bahasa yang benar-benar di kuasai oleh semua manusia di muka bumi ini?
terus jika ditanya yang mana lebih dulu?
ayam atau telur?
pengetahuan atau pengalaman?
hmmm, mau menjawab yang mana saja, kembali lagi pada perepsi masing-masing kan...
apa memang semuanya harus seperti itu. tapi terus terang, saya sangat bangga pada orang yang pertama kali menemukan bahasa, dan bangga pada orang yang pertama kali mempertanyakan kedua hal di atas...
tapi pucing...
sudah lah...

Kamis, 31 Maret 2011

Perahu Kertas


Terbawa oleh arus air yang jernih...
Bening...
Tenang...
Dalam sunyi dan juga diam...

Aku hanya bisa terus mengikuti...
Tanpa mampu memberikan sebuah jalan..
Tanpa mampu menunjukkan jalan..
Tanpa mampu untuk berjalan...

Aku hanya mengambang...
Tanpa arah...
Menunggu angin bertiup..
Menunggu arus mengalir...

Aku berlayar tanpa seorang nahkoda...
Aku berlayar tanpa ada awak kapal...
Bahkan aku berlayar tanpa ada layar yang terkembang...

Karena aku akan terus beradu...
Beradu bersama dengan arus...
Deras, mungkin juga tenang..

Karena aku...
Hanya sebuah perahu...
Perahu Kertas...


created by:
Tharie DS

Rabu, 16 Maret 2011

Mangga Harum Manis


Mangga Harum Manis

Sore itu, saat pulang kuliah dengan sisa-sisa matahari yang mulai redup Rita menerima sms dari sahabatnya Kevin. Kevin berencana datang ke rumah Rita untuk membawakan mangga harum manis pesanan Rita beberapa hari yang lalu. Rita sebenarnya berencana untuk datang langsung ke rumah Kevin untuk mengambil mangga harum manis yang dijanjikannya ke Rita, tapi Kevin menolak dan berjanji akan membawakannya langsung ke rumah Rita. Rita sangat bersemangat berbalas sms dengan Kevin tanpa memperhatikan orang lain yang juga berada di atas angkot itu sedang memperhatikannya dengan raut wajah bertanya-tanya, “ada apa dengan orang ini? Kenapa dari tadi dia terlihat senyum-senyum sendiri? Apa mungkin dia tidak waras?”. Setelah hampir sampai di rumah, Rita baru menyadari kekonyolan yang dibuatnya sedari tadi, lalu menunduk malu tanpa mampu membangkitkan wajah manisnya yang lelah.

Sesampainya di rumah, Rita tiba-tiba lupa mengenai janjinya pada Kevin untuk menyambutnya, atau mungkin menyambut mangga harum manisnya. Rita mungkin terlalu lelah karena menghadapi perkuliahan yang sangat padat hari itu dan terlalu malu mengingat kejadian konyol yang dilakukannya di atas angkot tadi. Rita akhirnya tertidur tanpa mengganti pakaian yang sudah dikenakannya sejak pagi tadi sepulang kuliah. Belum beberapa saat Rita tertidur ibunya tiba-tiba memanggil Rita dan menyampaikan tentang kedatangan temannya. Rita dengan malas-malasan akhirnya bangkit dari tempat tidurnya dengan perasaan kesal dan wajah kusut. Kemudian Rita tersadar bahwa sore ini Kevin akan ke rumahnya dan membawakan mangga harus manis kesukaannya. Rita segera memperbaiki wajah dan mood-nya, serta mempercepat langkah kaki mungilnya menuju ke taman yang ada di halaman rumahnya.

Rita kemudian menemui Kevin dengan wajah yang cerah, senyumnya dia lebarkan, dan matanya berbinar-binar, bukan karena Kevin, tapi lebih kepada bungkusan berwarna hitam yang masih tersemat di tangan kanan Kevin. Hari itu Kevin terlihat berbeda, lebih rapih, dan aroma parfumnya yang lembut tercium saat Rita duduk di sampingnya. Rita kemudian menyapa Kevin dengan senyum manis yang terpancar sangat indah dari wajah lembutnya. Kevin sesaat terpanah melihat keindahan senyuman yang baru saja diberikan Rita untuknya. Kemudian sambil membalas senyum Rita yang menawan, Kevin memberikan bungkusan berwarna hitam yang dibawanya tadi. Namun saat memberikan bungkusan tersebut, tanpa sengaja kedua tangan mereka saling bersentuhan, kemudian masing-masing dari mereka merasakan hal yang aneh yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, seakan tersihir oleh mantra mangga harum manis. Beberapa detik kemudian mereka tiba-tiba tersadar dari situasi aneh yang sempat mematungkan mereka dan sesegera mungkin melepaskan kedua tangan yang tadi saling menyampaikan pesan dari sihir mangga harum manis. Mencoba mengembalikan suasana menjadi normal kembali akhirnya Kevin membuka percakapan.

“Ri, nih aku bawain mangga pesanan kamu, mangga harum manis yang aku ambil langsung dari pohon di halaman rumah ku, daripada kamu yang manjat, nanti dikirain monyet betina lagi gelantungan…hehehhehe..”

“Enak saja, emangnya muka aku mirip monyet apa? Kamu aja tuh yang pelit, kan kalo aku manjet pohonnya langsung bisa ngambil yang banyak.”, Rita protes karena tidak mendapat ijin dari Kevin untuk mengambil langsung mangga harum manis kegemarannya dari pohon di halaman rumah Kevin.

Kemudian cerita mereka berlanjut, mereka menceritakan banyak hal yang menarik tentang teman-teman baru mereka, tugas-tugas kuliah mereka, lingkungan perkuliahan mereka, dan juga menceritakan masa lalu mereka, masa saat mereka masih berada di bangku sekolah. Semua cerita mereka seakan telah dikemas begitu indah dan mengalir dengan penuh canda tawa, seolah-olah taman dimana mereka menyampaikan banyak hal satu sama lain adalah tempat yang paling indah yang pernah mereka kunjungi selama ini, seakan bunga-bunga di taman itu sedang bermekaran dan dimeriahkan dengan sinar matahari yang menawan di sore hari. Kevin ternyata diam-diam memperhatikan Rita dengan seksama saat mereka mengobrol, bukan karena Kevin tertarik dengan cerita Rita, tapi karena Kevin menyimpan sesuatu di hatinya, sesuatu tentang Rita.

Waktu berjalan begitu saja mengikuti alur cerita yang mereka rangkai berdua, hingga sudah hampir setengah jam lebih mereka berdua saling bercerita. Kevin seakan-akan hanyut dalam wajah ceria Rita dan tidak ingin kehilangan moment indah ini. Sesekali muncul bisikan-bisikan di kepala Kevin, “ini waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan kamu sama dia, tunggu apa lagi?”, namun Kevin hanya mampu memandangi wajah Rita. Kevin tahu bahwa Rita masih menyimpan baik ingatan tentang seseorang dari masa lalunya dan sulit untuk melupakannya. Kevin hanya kekurangan nyali untuk menyatakan perasaannya pada Rita. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja mereka berdua terdiam, hanya ada suara angin yang sepintas terdengar seperti ingin menyampaikan sesuatu. Mata mereka kemudian saling bertemu, keduanya saling menatap dalam, mencoba mencari tahu isi hati mereka masing-masing. Seakan seperti mangga harum manis, yang warnanya masih hijau tetapi membuat orang lain penasaran akan rasa manis yang tersimpan dibalik kulitnya.

Created By:

Utari Dwi Sartika

Psikologi 2008

Cinta Diam-Diam



Cinta Diam-Diam


Cinta diam-diam. Mirip seperti judul lagu. Tapi memang ini sebuah judul lagu, lagu dari seorang Febrian..


Inikah namanya cinta diam-diam

Hanya Tuhan, Engkau dan Aku yang tahu

Biarkanlah ragamu kini jadi miliknya

Namun jiwa dan cintamu pasti untuk ku

(Febrian, Cinta diam-diam)


Lagu ini sempat diputar berulang kali di dekatku. Awalnya aku tidak mengerti apa maksud sahabatku yang lain memutar lagu ini berulang kali di dekatku saat aku berada dekat dengan sahabatku, Dinda. Lalu sahabat-sahabatku yang lain kemudian memberikan kode yang mengarahkan pandangan mereka ke arah sahabatku Dinda yang saat itu sedang sibuk berkutat dengan kumpulan kertas-kertas proposal yang belum rangkum di kerjakannya. Sejenak aku mengernyitkan keningku dengan wajah bertanya-tanya ke arah sahabat-sahabatku. Kemudian aku seketika tersadar dari ketidak pekaanku terhadap lagu itu. Jelas saja, lagu itu tak henti-hentinya diputarkan sahabat-sahabatku, karena seakan pencipta dari lagu ini sangat mengerti dengan kisah Dinda, hingga dia mampu mengarang lirik lagu ini dengan begitu indah, dan juga tersampaikan dengan begitu sempurna oleh pelantun lagu ini.

Dinda, dia salah satu sahabatku yang kalau terlihat dari penampilannya, sudah jelas orangnya seperti apa. Jilbab yang berukuran sedang dan selalu tertata rapi dengan lapisan yang berlipat, selalu menghiasi sekeliling wajahnya, menutup rambut panjangnya yang lurus dan tebal, karena merupakan keindahan dari pencipta-Nya yang harus dihindarkannya dari perbuatan dosa. Termasuk jenis orang yang perfeksionis, mesti sempurna untuk segala hal yang dikerjakannya, orangnya kadang mengalami anxietas berlebihan kalau sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan tidak tercapai dalam tingkatan yang dipahaminya. Tapi Dinda juga sedikit melankolis menurutku, dia itu bersifat penuh pemikiran, setia, tekun, analitis. Dinda orangnya amanah, dan aktif dalam organisasi, utamanya yang berhubungan dengan dakwah. Sikapnya yang ramah dan lemah lembut membuatnya disenangi oleh banyak orang. Tidak terkecuali oleh ketua angkatan kami, Rendra.

Awalnya Dinda tidak terlalu dekat dengan Rendra, hingga saat inagurasi kami berjalan. Peran sekretaris yang diamanahkan kepada Aurel, sepertinya mengalami sedikit hambatan, yang akhirnya Aurel harus mendapat bantuan dari Dinda. Proses pembuatan proposal dan segala hal yang berhubungan dengan persuratan akhirnya menjadi tugas mereka berdua. Sejak itu sepertinya Dinda menjadi sekretaris 2 untuk acara inagurasi kami, dan semenjak itu pula Dinda dan Rendra juga mulai sering berkomunikasi, namun dengan jarak yang telah diatur dalam islam, atau selalu dengan orang lain yang serta merta menjadi obat nyamuk buat mereka hanya sekedar penghilang fitnah. Karena jika ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berdua-duaan, maka akan ada setan sebagai pihak ketiganya. Tapi walau bagaimanapun juga, kami sama-sama anak psikologi, mampu mendeteksi adanya perasaan yang lain dari sekedar teman, walau memang selama ini pembicaraan yang sering mereka bicarakan tidak jauh dari tugas, event angkatan, atau event organisasi.

Beberapa saat kemudian, Dinda mendapat amanah menjadi sekretaris utama Rendra dalam suatu event yang diadakan LDF kami, mau tidak mau intensitas komunikasi mereka semakin meningkat, lebih sering ngobrol berdua dalam keramaian, atau ngobrol berdua dalam sepi masing-masing, lewat telepon ataupun sms. Setiap kami menanyakan hubungan Dinda dengan Rendra, Dinda selalu memberikan jawaban yang sama, bahwa tidak ada perasaan yang lain dari sekedar teman. Lama-kelamaan semua itu terus berlanjut, Dinda dan Rendra semakin dekat, semakin tidak nampak seperti sekedar teman. Mereka lebih bisa dikatakan sebagai sepasang kekasih. Tapi karena prinsip Dinda yang tidak mengenal kata pacaran, status itu tidak pernah ada dan tidak pernah terucap dari bibir mereka. Entah kenapa semenjak kedekatan Dinda dan Rendra, rasanya Dinda semakin menjauh dari kami, semakin jarang berkumpul dengan kami, dan seperti berubah menjadi pribadi yang lain.

Merasa perubahan itu tidak layak bagi kami, dan tidak ingin kami bicarakan dibelakang, kami memutuskan untuk menanyakan hal ini langsung kepada Dinda. Awalnya Dinda mengelak, tapi setelah kami memaparkan beberapa bukti yang nampak oleh kami melalui sikap dan perilakunya selama ini, akhirnya Dinda tersadar dan mengakui adanya perasaan yang lain pada Rendra lebih dari sekedar teman. Tapi mereka memang tidak pernah ada yang menyatakan perasaan masing-masing secara langsung, tidak ada yang membuat status ikatan antara mereka berdua.

Lama mereka bersikap seperti itu, selalu kompak dalam banyak hal, bahkan masalah kostumpun mereka selalu sama. Teman-teman yang lain bahkan berpikir kalau mereka sudah jadian, beberapa lagi berpikir mereka HTS-an, dan mereka berpikir warna baju mereka yang sama karena disengaja. Dinda juga sering cerita pada kami kalau Rendra seringkali menelpon hingga tengah malam dengan menggunakan beberapa nomor yang berbeda karena setiap nomer yang satu kehabisan pulsa akan segera dilanjut dengan nomer yang lain, betapa relanya Rendra mengorbankan pulsanya hanya untuk berbincang dengan Dinda tentang sesuatu yang kadang mungkin jauh dari penting. Rendra juga sering mengabarkan pada Dinda saat dosen sudah berada di dalam kelas namun Dinda belum nampak di dalam kelas. Begitu pula sebaliknya. Dinda tidak ingin dikatakan sebagai sepasang kekasih antara dirinya dan Rendra, tapi sayangnya orang lain sudah menganggap seperti itu. Sering kami melakukan diskusi untuk membahas hal ini, tapi sayangnya tidak pernah ada tindak lanjut dari hasil diskusi kami.

Saat ke Bandung untuk mengadakan sertfikasi guru dan tes minat bakat, sempat terjadi sebuah insiden. Hanya sebuah insiden, namun berdampak banyak bagi semuanya. Rendra mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju ke tempat penginapan kami. Mendengar kabar itu, Dinda sontak sangat terpukul, cemas, dan takut sesuatu yang sangat buruk terjadi pada Rendra. Dinda hanya menampakkan wajah prihatinnya atas peristiwa yang telah menimpa Rendra dan beberapa teman lainnya yang juga berada dalam mobil avanza yang dikemudikan Rendra saat itu. Tegarnya wajah Dinda di depan kami, dan rapuhnya perasaan Dinda dibelakang kami. Berusaha menguatkan kami dalam kerapuhannya. Malamnya tanpa sepengetahuanku dan teman-teman yang lain, Dinda ternyata menangis sendu semalaman, menangis ditengah-tengah kami, menangis dalam diam, menangis dalam gelapnya malam, bahkan mungkin menangis dalam tidurnya. Begitu besar kekhawatiran Dinda terhadap Rendra saat itu. Bahkan mungkin melebihi kekhawatiran kami semua. Aku bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana khawatirnya Dinda saat itu. Seakan tidak ada kata yang pantas untuk menggambarkan kekhawatiran dan rasa takut Dinda atas peristiwa yang telah menimpa Rendra saat itu.

Namun keesokan harinya Dinda sudah dapat bernafas cukup lega saat melihat Rendra dapat berdiri tegap dihadapan kami semua, tanpa mampu menyatakan kekhawatirannya yang berlebih, Dinda hanya bertanya sekedarnya pada Rendra, tapi merasakan beratnya beban yang harus ditanggung Rendra saat itu. Dinda hanya mampu menampakkan wajah prihatinnya pada Rendra dan memberikan semangat pada Rendra agar Rendra tidak merasa terpuruk dan menyalahkan dirinya sendiri. Hingga Rendra mampu untuk bangkit dan tersenyum saat itu.

Sepulang kami dari Bandung, semuanya masih sama. Rendra masih sering meminta pertimbangan Dinda dalam bertindak, sharing dengan Dinda secara langsung atau melalui telepon. Tapi lama kelamaan Dinda mulai merasa risih dengan isu-isu yang tersebar seantero fakultas mengenai hubungannya dengan Rendra, karena Rendra ketua angkatan, secara otomatis kabar tentang dirinya cepat tersebar luas. Walaupun orang-orang tidak berkata langsung dihadapan mereka, namun sudah menajdi rahasia umum bagi semua civitas fakultas akan hubungan mereka yang tidak pernah jelas ujung pangkalnya. Hingga suatu saat tersebar kabar mengenai kedekatan Rendra dengan seorang teman angkatan kami, Rena.

Kabar tentang kedekatan Rendra dan Rena ternyata sudah tersebar sejak kami mulai libur panjang, entah kapan disebarnya, oleh siapa, dan kejelasan kabar itu bagaimana, tidak pernah ada. Hingga saat kami mulai memasuki semester baru, kabar itu semakin lama semakin meluas. Apa benar? Aku dan yang lainnya belum mendapat jawaban yang pasti, hingga akhirnya kami meminta kejelasan kabar itu langsung pada Dinda. Dinda hanya bercerit bahwa Rendra pernah melakukan konfirmasi padanya tentang hal ini, dan Rendra meminta pada Dinda agar tidak mempercayai isu yang tidak jelas itu. Dinda sempat ragu akan konfirmasi yang diberikan Rendra dan sempat bertanya-tanya dalam hati akan maksud dan tujuan Rendra melakukan konfirmasi mengenai kedekatannya dengan Rena pada Dinda, karena Dinda merasa tidak memiliki ikatan apa-apa dengan Rendra, walau sebenarnya Dinda merasa kecewa denga Rendra saat itu. Sejauh ini hubungan Rendra dan Dinda sudah sampai tahap memperkenalkan pada keluarga masing-masing. Seringkali Rendra meminta salam kepada keluarga Dinda, dan Rendra juga sering menyampaikan salam Dinda kepada keluarga Rendra. Orang tua Rendra bahkan sudah mengenal Dinda, begitu pula orang tua Dinda yang sudah mengenal Rendra. Dinda merasa saat seseorang sudah meminta untuk diperkenalkan dengan orang tuanya, itu artinya dia bukan lagi sekedar teman biasa, walau tidak ada kata pacaran bagi mereka. Namun kabar tentang kedekatan Rendra dengan Rena semakin tersebar luas, seperti yang aku bilang tadi, Rendra seorang ketua angkatan, kabarnya dengan sangat mudah tersebar ke selurus fakultas. Apalagi Rena tidak segan memperlihatkan kedekatannya pada Rendra.

Dinda kecewa, karena Rendra pernah berkata pada Dinda agar Dinda mau menjaga perasaan Rena. Dinda tidak menyangka Rendra akan berkata begitu padanya tanpa memikirkan perasaan Dinda sedikitpun. Rendra memang pernah menanyakan perasaan Dinda padanya, namun Dinda tetap pada prinsipnya untuk tidak berpacaran, namun pada intinya masing-masing dari mereka sudah mengetahui perasaan mereka satu sama lain. Cinta mereka hanya cinta diam-diam, hanya Tuhan, Dinda, dan Rendra yang tahu. Sekarang Rendra semakin dekat dengan RENA, dan semakin jauh dari Dinda.

Pernah suatu sore, awan nampak kelabu, semakin gelap karena tidak ada lagi cahaya matahari sore, seluruh bagiannya telah tertutup oleh awan abu-abu yang semakin hitam. Rendra tiba-tiba datang dengan mengenakan motor besarnya dari samping gedung LK dengan Rena pada boncengan belakangnya mengenakan helm spongebob berwarna kuning. Saat itu juga Dinda baru saja keluar dari gedung LK, melihat Dinda yang keluar dari gedung LK, Rendra lantas memundurkan motornya perlahan-lahan, mungkin takut terlihat oleh Dinda atau entah dengan alasan apa Rendra melakukan hal itu. Rendra bahkan meminta Rena untuk jalan terlebih dahulu, walau niat Rena sebenarnya ingin berjalan bersama-sama dengan Rendra saat itu. Tanpa sepengetahuan Rendra rupanya Dinda mengetahui kedatangan mereka, dengan perasaan yang campur aduk saat itu, berusaha menampakkan wajah normalnya di depan Rendra. Mungkin ketegaran Dinda membuat Rendra menganggap Dinda tidak memendam perasaan apapun padanya. Sangat berbeda dengan Rena yang tidak segan menampakkan seluruh ekspresi emosinya pada Rendra. Tidak segan mengucurkan air matanya saat sedih melihat Rendra masih nampak memperhatikan Dinda, bahkan marah saat melihat Rendra berbincang dengan Dinda, walau sebenarnya pembicaraan mereka hanya seputar tugas. Oleh sebab itu Rendra pernah menyampaikan permintaannya pada Dinda untuk menjaga perasaan Rena. Karena perasaan aneh yang dirasakan Dinda saat itu, mungkin tidak aneh, tapi Dinda sakit, dia merasa sakit melihat peristiwa tadi, merasa terkhianati oleh cinta diam-diam yang mereka bentuk selama ini. Rintik hujan mulai turun perlahan-lahan, awan semakin hitam, begitu pula perasaan Dinda yang semakin kelam dan menangis dalam jiwanya. Tanpa memperdulikan hujan yang semakin deras, Dinda tetap berjalan pulang meninggalkan gedung LK. Hujan deras yang mengguyur Dinda saat itu seakan terasa gersang bagi Dinda. Tetesan air mata-nya pun bersatu dengan derasnya hujan yang mengguyur wajah dan seluruh tubuhnya, tanpa memperhatikan apapun yang ada disekitarnya, Dinda terus berjalan di tengah hujan dengan tatapan kosong dimatanya dan perasaan yang seolah-olah teriris-iris oleh silet yang tumpul, perih dan sangat menyiksa dirinya.

Sepertinya Rendra memang sudah benar-benar tidak memperhatikan perasaan Dinda, tidak melihat betapa rapuhnya Dinda dibalik ketegaran wajahnya di depan Rendra. Kali ini Rendra bahkan menampakkan kedekatannya di hadapan Dinda secara langsung, entah apa maksud Rendra saat itu, benar-benar ingin Dinda mengetahui kedekatannya dengan Rena atau hanya sekedar ingin mengetahui apakah Dinda merasa cemburu melihat sikap Rendra yang seperti itu? Padahal hari itu hari ulang tahun Dinda, Rendra bahkan tidak mengucapkan selamat pada Dinda, justru malah memberikan silet tumpulnya untuk mengoyak-oyak perasaan Dinda saat itu. Seperti biasa, Dinda selalu bersikap tegar di hadapan Rendra. Seusai kuliah Dinda langsung menuju kantin, namun tiba-tiba matanya mulai berkaca-kaca dan satu persatu butir-butir air matanya mulai berjatuhan di pipinya. Kami bingung dengan tangisan Dinda saat itu, karena awalnya dia baik-baik saja, tapi kerapuhanya sudah sangat sulit untuk dia bendung saat itu, seketika air matanya mengalir deras, namun dengan tangisan yang tenang, tangisan yang diam, dia menangis dalam diamnya, hanya mampu mengeluarkan butiran-butiran air mata tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya. Mungkin karena cinta mereka hanya cinta diam-diam, hanya Tuhan, Rendra dan Dinda yang tahu. Tak ada yang diperjuangkan, tak ada yang dipersalahkan, karena cinta mereka hanya cinta diam-diam.


Pertama bertemu ku suka padamu

Begitu juga dengan mu

Sayangnya cinta kita tak mungkin bersatu

Namun pernah berjanji sehidup semati


*Engkau punya dia

Sementara aku sendiri

Tak mungkin orang kan tahu kita mencinta


#Reff

Inikah namanya cinta diam-diam

Hanya Tuhan, Engkau dan Aku yang tahu

Biarkanlah ragamu kini jadi miliknya

Namun jiwa dan cintamu pasti untuk ku

Sampai saat ini kau selalu dihati

Karena ku tak mungkin mengganti

Ku tahu hatimu selalu untukku

Karena cinta kita ini cinta sejati

(Febrian, Cinta Diam-Diam)


Inspired By: Zamnatul

Created By : Tharie DS


Jumat, 11 Maret 2011

Amplop Merah Muda

Aku mencoba untuk memahami akan kekuatan mimpi...
Memulai hidup dengan bermimpi dan mengakhiri hari dengan bermimpi...
Aku mulai membuka mataku yang lelah karena lelapnya malam, namun sedikit terusik karena matahari mulai memancarkan sinar-sinarnya samar-samar di kamar tidurku. Kemudian dengan malas ku bangkitkan tubuhku dari kolam kapuk yang menemaniku semalaman. Aku kemudian merasa ada sesuatu yang mengusikku, bukan karena cahaya mentari pagi ini, tapi karena ingatanku akan mimpiku semalam. mimpi yang membuatku tersenyum sendiri di tengah ricuhnya kicauan burung yang bertengger di luar jendela kamarku. Aku bermimpi tentang hal yang indah, tentang sesuatu yang akan membuatk bahagia hari ini. Aku kemudian melanjutkan pandanganku pada sebuah meja kayu di bagian sudut kamarku, ku temukan sesuatu yang membuatku penasaran papgi itu. Aku menemukan sebuah amplop berwarna merah muda yang ditujukan untuk diriku. Aku kemudian mencoba untuk membuka perekat di bagian atas amplop yang memancarkan keharuman semerbak di telapak tanganku. Aku mulai membukanya secara perlahan hingga semua bagian perekat pada amplop tadi terbuka.
Dengan perasaan deg-degan dan penasaran, aku mulai membaca isi dari amplop merah muda tadi. Membacanya kata demi kata hingga menjadi suatu rangkaian kalimat, kalimat demi kalimat hingga merangkai suatu paragraf, dan semakin aku membacanya semakin membuat aku penasaran kepada pengirim surat ini.
Hmmmm, aku tak tahu harus bersikap seperti apa terhadap amplop merah muda yang seluruh isinya telah ku baca hingga berulang kali, mencoba untuk memastikan bahwa isi dalam amplop yang aku baca memiliki makna seperti yang aku pahami. Aku mencoba untuk berfikir dari segala sudut pandang, memastikan untuk tidak berpikir hanya dari satu sudut pandang saja. Namun dari manapun aku melihatnya, dari sudut pandang manapun aku memahaminya, aku hanya memperoleh satu jawaban.
Kemudian aku kembali bertanya-tanya apakah mimpiku semalam adalah sebuah pertanda? Aku melihat wajah seseorang, wajah dari pengirim amplop merah muda ini. Apakah memang ada hubungan antara mimpiku semalam dengan pengirim dari amplop merah muda ini?
Aku kemudian memandangi kembali isi dari amplop merah muda ini, terdiam, dan berusaha mengatur segala gejolak yang terjadi dalam hati dan pikiranku sekarang. Sampai akhirnya aku tetap berada pada satu titik, titik dimana jawaban yang sedaritadi sudah ada dalam pikiranku.
Dia...hmmm...dia menyatakan sesuatu tentang perasaannya. Suatu kondisi emosi yang tersampaikan melalui tulisan, tulisan yang dirangkainya dalam selembar kertas dengan amplop merah muda. Dan sepertinya mimpiku semalam telah berubah menjadi nyata.